in , ,

Cara Berdamai dengan Kegagalan Meski Sudah Berusaha Maksimal

belajar dari kegagalan

Cara berdamai dengan kegagalan meski sudah berusaha maksimal – Selama perjalanan hidup dan karier, kita akan menghadapi banyak kegagalan dan penolakan. Ada yang gagal dalam karier, ada yang gagal dalam pernikahan, serta masih banyak kegagalan dan penolakan lainnya. Ada juga yang bukannya dipromosikan, tapi malah didemosi. Bukannya dinaikkan pangkatnya, malah diturunkan. Bukannya diapresiasi atas kerja kerasnya, malah dinyinyiri.

Menyebalkan memang. Dan uniknya, setiap individu menghadapi kegagalan dan penolakan dengan cara masing-masing. Ada yang mendengarkan lagu Coldplay, Fix You, yang liriknya sama dengan tulisan ini. “When you try your best, but you do not succeed”.

Ada yang membaca puisi.

Ketika kita sudah berupaya maksimal tapi tetap saja gagal, berikut adalah alternatif cara mengatasinya:

Berikan Waktu Kepada Diri Sendiri untuk Berduka dan Meratap

Pada akhir tahun lalu, Ricky mendapat informasi bahwa ia tidak terpilih sebagai karyawan terbaik. Padahal, ia unggul dalam semua kriteria. Awalnya, Ricky berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Ia tak kecewa. Dan bahwa Ricky tidak terganggu oleh keputusan yang telah diambil. Namun, nyatanya Ricky hancur. Semakin berpura-pura, semakin kuat munculnya perasaan-perasaan itu.

Pada satu titik, Ricky membiarkan dirinya merasakan rasa sakit itu selama beberapa hari. Ia lampiaskan kemarahannya dengan menyanyi lantang di rental karaoke. Kadang, ia berolahraga ekstra untuk mengeluarkan energi berlebih. Dan kadang, saat harus sering keluar dan menangis, Ricky memaafkan dirinya.

“Biarkan dirimu merasakan kekecewaan atau emosi lainnya yang mengiringi penolakan itu. Semakin kamu tekan, semakin kuat emosi itu akan menghantuimu” saran seorang teman kepadanya.

“Lebih sehat bagimu mengekspresikan emosi yang kau rasakan daripada berpura-pura merasakan emosi yang tidak ada” lanjutnya.

Memang betul bila dipikir-pikir. Dengan meluangkan waktu untuk merasakan emosi setelah mengalami kegagalan dan penolakan, kita bisa move on tanpa terbebani emosi masa lalu. Kita bisa lebih bebas bergerak maju.

Carilah Dukungan dari Orang Terkasih

Kita sudah tahu sekali bahwa setiap ‘tidak’ itu selangkah lebih dekat dengan ‘ya’. Namun, kadang kita lupa dan butuh pengingat agar kita termotivasi untuk terus maju dan terus menerus meratapi nasib.

Setelah gagal dalam pemilihan karyawan terbaik, Ricky berpaling ke orang-orang yang paling mendukungnya. Pada saat yang tepat, ia mengumumkan kabar buruk itu. Dalam hitungan menit, pesan-pesan yang membesarkan hati dari teman dan kenalan lainnya mengalir masuk, menenangkan rasa sakit yang ia rasakan selama beberapa jam setelahnya.

Jaringan keluarga atau pertemanan dapat memberikan dukungan serta umpan balik yang jujur, terutama jika kita memiliki orang terdekat atau bahkan mentor. Kita bisa menggunakan umpan balik dan dorongan mereka untuk membangun kembali kepercayaan diri.

Selain itu, kita bisa meluangkan waktu bersama teman dan keluarga di tengah upaya kita untuk bangkit. Dengan begitu, kita tetap bisa membumi. Jadi, sesekali, menjauhlah dari layar komputer Anda dan hadiri ajakan minum kopi dengan teman sekolah yang sudah lama tidak Anda temui atau makan malam bersama keluarga.

Dengan beristirahat sejenak, kita bisa mengisi ulang tenaga. Kata-kata afirmasi atau motivasi dari orang-orang terkasih ketika kita merasa sedih bisa menguatkan kita dalam melangkah.

Usahakan Menata Ulang Pola Pikir

Ada orang yang di-PHK dari pekerjaan bukan karena kinerjanya, tetapi karena perusahaan sedang melakukan restrukturisasi.

Toni juga begitu. Ia mendapat telepon dari orang-orang HRD bahwa keputusan mereka tidak ada hubungannya dengan kinerja. Meski kata-kata itu menghibur, perasaannya tidak berubah. Ia gundah-gulana.  

Saat itulah, ia teringat salah satu hal yang dikatakan oleh pembicara utama dari suatu konferensi. Sang pembicara bilang:

“Mengubah pola pikir Anda tidak mudah, tetapi kian mudah apabila Anda mencoba menyelesaikan tugas-tugas kecil di sepanjang perjalanan”.

Misalnya, kita bisa mencoba menyisihkan waktu untuk berolahraga, menulis, dan makan sehat. Dengan berfokus pada hal-hal kecil dan menyelesaikannya, kita akan merasa lebih baik tentang diri sendiri. Itu akan membantu kita mengembangkan pikiran yang lebih positif tentang diri sendiri. Kata-kata bijak seperti kutipan di atas juga membantu.

Dengan menemukan hal-hal kecil dan menyelesaikannya, kita akan merasa lebih baik tentang diri sendiri. Namun, yang perlu diingat bahwa apa yang “terbaik” bagi seseorang itu subjektif. Kita hanya perlu menemukan apa yang terbaik bagi kita dan konsisten menerapkannya.

Lihat Apa Saja yang Kita Miliki dan Gunakan

Dalam “The Last Lecture,” Randy Pausch pernah mengatakan bahwa Experience is what you get when you didn’t get what you wanted. And experience is often the most valuable thing you have to offer. Terjemahannya, “pengalaman adalah apa yang Anda dapatkan ketika Anda tidak mendapatkan apa yang Anda inginkan.”

Dalam bahasa Indonesia, pengalaman ini disebut juga dengan hikmah. Kadang, hikmah yang kita peroleh lebih berharga daripada yang awalnya kita pikirkan. Meski tidak mendapat hal yang kita inginkan, kita bisa menggunakan pengalaman itu untuk mengevaluasi cara kita sebelumnya lalu melakukan penyesuaian. Begitu pula setiap kegagalan dan penolakan yang ada. Kita jadikan sebagai pendorong untuk membuat kita kian menonjol.

Jadi, jika kita menggunakan kegagalan dan penolakan sebagai bahan bakar untuk mendorong kita mencapai hal-hal positif dan konsisten melakukannya, seseorang pada akhirnya akan menyadari seberapa menakjubkan kita dan nilai yang bisa kita berikan.

Kesimpulannya, ada empat langkah yang bisa tempuh untuk berdamai dengan kegagalan: (1) berikan waktu kepada diri sendiri untuk berduka dan meratap, (2) carilah dukungan dari orang terkasih, (3) usahakan menata ulang pola pikir, dan (4) lihat apa saja yang kita miliki dan gunakan.

Bagikan ke:

Sukses Menahan Marah

agar berhasil dalam baking

Agar Selalu Berhasil Dalam Baking, Baking Basics